Perjalanan ke Sumbawa, Nusa
Tenggara Barat, bukanlah perjalanan singkat yang hanya meninggalkan jejak
sementara. Selama dua bulan dari Juli hingga Agustus 2024 saya berada di sana
karena urusan pekerjaan. Namun seiring waktu berjalan, tempat itu tidak lagi
terasa seperti sekadar lokasi tugas. Ia berubah menjadi ruang pengalaman yang
perlahan membentuk cara saya memandang ritme hidup, alam, dan kesederhanaan.
Sejak pertama tiba, yang
menyambut bukan keramaian atau kesan modern yang terburu-buru, melainkan
bentang alam luas yang terasa mentah dan jujur. Perbukitan hijau berlapis-lapis
membentang sejauh mata memandang, garis pantai panjang seperti tak pernah habis,
dan laut biru yang memantulkan cakrawala tanpa batas. Lokasinya berada cukup
jauh dari pusat kota, menciptakan jarak dari hiruk-pikuk yang biasa saya temui.
Ada keheningan yang bukan kosong, melainkan penuh penuh ruang untuk berpikir,
mengamati, dan merasakan.
Meski jauh dari kota, kehidupan tetap bergerak. Kecamatan Lunyuk menjadi salah satu titik yang terasa lebih hidup tempat masyarakat berjualan, bertukar cerita, dan menjalani rutinitas sehari-hari. Di sana saya melihat denyut sosial yang sederhana namun hangat, jauh dari kesan formal atau terburu-buru. Aktivitas berlangsung apa adanya, tanpa dibuat-buat, namun justru itulah yang membuatnya terasa nyata.
Hari-hari di Sumbawa
memperlihatkan wajah kehidupan yang dekat dengan alam. Banyak masyarakat
bekerja sebagai petani jagung dan nelayan profesi yang bergantung pada musim,
tanah, dan laut. Melihat mereka bekerja sejak pagi memberi saya perspektif baru
tentang ketekunan dan kesabaran. Hidup di sana terasa mengikuti siklus alam,
bukan jadwal yang dipaksakan.
Perjalanan darat menyusuri wilayah sekitar menjadi pengalaman tersendiri. Jalanan berbukit yang dikelilingi hamparan hijau menghadirkan suasana sejuk dan menenangkan, seolah setiap tikungan menyimpan pemandangan baru. Ada sensasi kebebasan yang sulit dijelaskan ketika melintasi jalur-jalur itu angin menyentuh wajah, udara terasa bersih, dan waktu seperti melambat tanpa diminta.
Cuaca di Sumbawa memperkuat
karakter pengalaman tersebut. Pagi hari selalu dimulai dengan udara segar dan
dingin yang menyentuh kulit, menghadirkan ketenangan sebelum aktivitas dimulai.
Sore hingga malam kembali membawa kesejukan yang menenangkan. Namun siang hari
menghadirkan kontras panas matahari terasa tajam dan terik, mengingatkan bahwa
alam di sini memiliki kekuatan yang tak bisa diabaikan. Pergantian suasana ini
menjadi ritme harian yang tanpa sadar membentuk cara saya menikmati waktu.
Ketika matahari mulai turun,
duduk di tepi pantai menjadi ritual yang menghadirkan refleksi. Cahaya keemasan
perlahan tenggelam di horizon, langit berubah warna, dan suara ombak menjadi
latar yang menenangkan. Di momen-momen seperti itu, waktu terasa berhenti menyisakan
ruang untuk memahami diri sendiri tanpa gangguan.
Perjalanan juga tidak lengkap
tanpa pengalaman rasa. Saya berkesempatan mencicipi makanan khas Sumbawa yang
memperkaya perjalanan melalui cita rasa lokal. Setiap hidangan bukan hanya
tentang makanan, tetapi juga tentang budaya, tradisi, dan keramahan yang
menyertainya.
Seiring hari berganti minggu, dan
minggu berganti bulan, saya menyadari bahwa perjalanan ini bukan lagi tentang
pekerjaan atau destinasi. Sumbawa menjadi ruang bagi saya untuk bernapas lebih
dalam, menjauh dari kebisingan yang biasa mengisi hari-hari, dan menyatu dengan
lingkungan yang bergerak dalam tempo berbeda. Interaksi dengan masyarakat,
lanskap yang luas, serta pengalaman sederhana membentuk kenangan yang terasa
membumi dan tulus.
Ketika akhirnya dua bulan itu berakhir, saya meninggalkan Sumbawa bukan hanya dengan kumpulan foto atau ingatan visual tentang perbukitan, pantai, dan laut. Yang tertinggal jauh lebih dalam dari itu pengalaman tentang kesederhanaan, kebebasan, ketenangan, dan keindahan hidup yang tidak dibuat-buat. Perjalanan ini tidak sekadar selesai; ia menetap, menjadi bagian dari cara saya melihat dunia setelahnya.
Sangatt menarik cerita disumbawa, mungkin bisa dibuat judul yg lain, atau sebuah buku. wanderlust in sumbawa,
BalasHapusMendadak jd anak pantai wkwk
Nanti kita buat cerita baru yang lebih menarik yaa
Hapus