Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2026

Mengukir Jejak di Bawah Langit Papandayan

14 Februari 2023. Perjalanan itu dimulai dari Jakarta, ketika rel kereta membawa saya perlahan meninggalkan hiruk pikuk ibu kota menuju Bandung. Di balik jendela, kota berganti lanskap, gedung-gedung berubah menjadi hamparan hijau. Ada rasa tenang yang menyusup seolah alam sudah memanggil lebih dulu sebelum kaki benar-benar melangkah. Setibanya di Bandung, saya langsung menuju kosan saudara saya, Yopi, yang memang sedang kos dibandung karena bekerja. Tanpa banyak jeda, kami mulai menyiapkan perbekalan: P3K, camilan, air minum, makanan. Sementara perlengkapan inti seperti tenda, sleeping bag, kompor, nesting, dan hammock sudah kami reservasi melalui WhatsApp di penyewaan alat camping sekitar Gunung Papandayan. Sore itu, setelah semua siap, kami menuju Jatinangor ke kosan saudara saya yang satu lagi, Marco, yang sedang menjalani masa studi kuliah. Malam itu kami bertiga berkumpul dalam ruang sederhana, membahas rencana pendakian dengan penuh antusias. Ada canda, ada perhitungan jalu...

Langkah Pertama Menuju Puncak, Perjalanan Mendaki Gunung Seminung

  Ada perjalanan yang tidak sekadar membawa kita berpindah tempat, tetapi mengubah cara kita melihat diri sendiri. Pendakian pada 8–9 Januari 2019 menuju puncak Gunung Seminung di wilayah Lampung Barat adalah salah satunya sebuah perjalanan yang selalu saya ingat sebagai pendakian pertama dalam hidup saya. Dengan ketinggian 1.881 mdpl, gunung ini berdiri tenang namun menantang, seolah menguji niat siapa pun yang ingin menapakinya. Saya berangkat bersama teman-teman, membawa ransel yang terasa lebih berat dari biasanya bukan hanya karena perlengkapan, tetapi juga karena rasa gugup dan antusias yang bercampur jadi satu. Ini adalah pertama kalinya saya benar-benar melangkah ke jalur pendakian, pertama kalinya saya meninggalkan kenyamanan untuk menghadapi alam secara langsung. Perjalanan dimulai dengan penuh semangat. Tawa masih sering terdengar, langkah masih ringan, dan rasa penasaran menjadi bahan bakar utama. Namun seiring waktu berjalan, jalur mulai terasa ...

Ketika Waktu Melambat di Sumbawa

Perjalanan ke Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, bukanlah perjalanan singkat yang hanya meninggalkan jejak sementara. Selama dua bulan dari Juli hingga Agustus 2024 saya berada di sana karena urusan pekerjaan. Namun seiring waktu berjalan, tempat itu tidak lagi terasa seperti sekadar lokasi tugas. Ia berubah menjadi ruang pengalaman yang perlahan membentuk cara saya memandang ritme hidup, alam, dan kesederhanaan. Sejak pertama tiba, yang menyambut bukan keramaian atau kesan modern yang terburu-buru, melainkan bentang alam luas yang terasa mentah dan jujur. Perbukitan hijau berlapis-lapis membentang sejauh mata memandang, garis pantai panjang seperti tak pernah habis, dan laut biru yang memantulkan cakrawala tanpa batas. Lokasinya berada cukup jauh dari pusat kota, menciptakan jarak dari hiruk-pikuk yang biasa saya temui. Ada keheningan yang bukan kosong, melainkan penuh penuh ruang untuk berpikir, mengamati, dan merasakan. Meski jauh dari kota, kehidupan tetap bergerak. Kecamatan Lunyuk m...

Savana Pertama, Catatan Perjalanan ke Waingapu

  Akhir Maret 2023. Langit masih gelap ketika perjalanan itu dimulai. Bukan perjalanan liburan, bukan pula perjalanan yang sudah lama direncanakan. Ini adalah perjalanan kerja dua minggu di Waingapu, Nusa Tenggara Timur tidak lama setelah aku diterima di tempat kerja baru. Fase awal karier yang seharusnya penuh adaptasi, justru membawaku jauh ke timur Indonesia, ke tanah Sumba yang selama ini hanya kulihat dari foto dan cerita orang. Ada rasa tegang, ada tanggung jawab, ada harapan. Dan di saat yang sama, ada rasa penasaran yang diam-diam tumbuh. Pesawat akhirnya mendarat di Bandara Umbu Mehang Kunda. Begitu pintu terbuka, udara yang lebih kering dan hangat langsung menyentuh wajah. Rasanya berbeda. Tidak lembap seperti kota-kota besar. Lebih tegas. Lebih jujur. Di kejauhan, hamparan bukit savana membentang tanpa batas. Warna tanahnya kecokelatan, kontras dengan langit biru yang terasa lebih luas dari biasanya. Kesan pertama tentang Waingapu adalah sederhana. Tapi justru dala...

Wanderid, lost in wanderlust

Setiap perjalanan, entah dekat atau jauh, selalu membawa rasa penasaran, tantangan, dan kejutan yang tak terduga. Saya tertarik pada jalan yang belum pernah saya lewati, pada lanskap yang terus berubah, dan pada momen-momen sunyi yang hanya bisa ditemukan saat sedang bepergian. Di situlah saya merasa benar-benar hadir, benar-benar hidup. Fotografi menjadi cara saya menyimpan semua itu. Lewat foto, saya tidak hanya merekam tempat, tetapi juga suasana cahaya lembut sebelum matahari terbit, jejak langkah di jalur pegunungan, hingga cerita kecil yang tersembunyi dalam pemandangan sehari-hari. Setiap foto adalah potongan waktu yang bisa saya kembali rasakan, sekaligus cerita yang bisa saya bagikan kepada orang lain. Perjalanan ini bukan hanya soal tujuan akhir, melainkan tentang apa yang saya pelajari di sepanjang jalan tentang perspektif baru, pengalaman baru, dan rasa kagum yang selalu muncul di setiap langkah. Melalui cerita dan gambar yang saya bagikan, saya berharap bisa mengajak o...