Langsung ke konten utama

Mengukir Jejak di Bawah Langit Papandayan



14 Februari 2023.

Perjalanan itu dimulai dari Jakarta, ketika rel kereta membawa saya perlahan meninggalkan hiruk pikuk ibu kota menuju Bandung. Di balik jendela, kota berganti lanskap, gedung-gedung berubah menjadi hamparan hijau. Ada rasa tenang yang menyusup seolah alam sudah memanggil lebih dulu sebelum kaki benar-benar melangkah.

Setibanya di Bandung, saya langsung menuju kosan saudara saya, Yopi, yang memang sedang kos dibandung karena bekerja. Tanpa banyak jeda, kami mulai menyiapkan perbekalan: P3K, camilan, air minum, makanan. Sementara perlengkapan inti seperti tenda, sleeping bag, kompor, nesting, dan hammock sudah kami reservasi melalui WhatsApp di penyewaan alat camping sekitar Gunung Papandayan.

Sore itu, setelah semua siap, kami menuju Jatinangor ke kosan saudara saya yang satu lagi, Marco, yang sedang menjalani masa studi kuliah. Malam itu kami bertiga berkumpul dalam ruang sederhana, membahas rencana pendakian dengan penuh antusias. Ada canda, ada perhitungan jalur, ada semangat yang tak bisa disembunyikan.

Paginya, dengan dua motor, kami berangkat dari Jatinangor menuju Garut. Saya berboncengan dengan Marco, sementara Yopi mengendarai motornya sendiri. Perjalanan sekitar 2–3 jam terasa seperti terapi jiwa. Udara perlahan berubah lebih segar, pemandangan semakin terbuka, perbukitan menyambut kami dengan megah. Kami sempat berhenti untuk sarapan di Garut, mengisi tenaga sebelum benar-benar masuk ke wilayah pegunungan.

Namun perjalanan tak sepenuhnya mulus. Kami sempat salah jalan karena mengikuti rekomendasi Google Maps yang menunjukkan jalur lebih cepat. Kami keluar dari jalan utama dan masuk ke jalan kecil berbukit sempit, sepi, dan cukup terjal. Ternyata itu jalur alternatif menuju bukit, bukan jalur umum pendakian. Dari pengalaman ini, kami belajar: untuk perjalanan motor ke Papandayan, lebih aman mengikuti jalur mobil dengan menonaktifkan opsi jalan tol agar tetap diarahkan ke jalan utama.

Setelah sekitar 2,5 jam perjalanan yang melelahkan namun terasa menyembuhkan, kami tiba di area loket masuk. Di zero point, suasana sudah berbeda. Bunga-bunga bermekaran, cottage berdiri rapi, dan udara di ketinggian ±2000 mdpl langsung menghadirkan nuansa pegunungan yang khas. Bahkan tanpa mendaki jauh pun, suasana “di atas gunung” sudah terasa. Kami mengambil perlengkapan sewa, memastikan semuanya lengkap, lalu memulai pendakian.

Langkah pertama langsung disambut lanskap khas Papandayan kawah dengan aroma belerang yang kuat, tanah tandus berlekuk seperti luka lama akibat letusan masa lalu. Uap tipis mengepul dari perut bumi, mengingatkan bahwa gunung ini masih hidup. Kami berjalan melewati area belerang dan sungai kecil, lalu berhenti di sebuah warung di pertengahan jalur untuk melepas dahaga.

Ini adalah kali kedua saya mendaki Papandayan. Pada pendakian pertama, saya tidak sampai puncak dan hanya melakukan perjalanan sehari tanpa camping. Kali ini berbeda. Kami bertiga bertekad menuntaskan semua area yang bisa dijangkau.

Yopi terlihat cukup kelelahan ini adalah pendakian pertamanya. Namun ia tetap melangkah, meski napas mulai berat. Udara terasa sejuk walau matahari cukup terik. Setelah beberapa jam berjalan, kami tiba di Ghober Hoet area camping dengan pemandangan sunrise yang memesona. Namun kami memutuskan melanjutkan perjalanan ke Pondok Salada, demi pengalaman yang lebih lengkap.

Sesampainya di Pondok Salada, kami langsung mendirikan tenda dan menata perlengkapan. Area ini cukup hidup ada warung makanan, kamar mandi, dan mushola. Kami membeli bubur kacang hijau dan cilok untuk menghangatkan perut. Di sana pula kami mendengar cerita tentang babi hutan yang kerap mencuri logistik pendaki. Penjual warung menyarankan agar makanan digantung di pohon atau diletakkan di tempat tinggi. Nasihat sederhana, tapi sangat penting.

Malam turun perlahan. Udara berubah lebih dingin. Kami menyalakan kompor, membuat kopi, menyeduh pop mie, dan menggoreng kentang. Di bawah langit pegunungan yang sunyi, obrolan mengalir tanpa beban. Tidak ada notifikasi. Tidak ada kebisingan kota. Hanya suara angin dan sesekali tawa kecil di antara kami.

Keesokan paginya, kami berjalan santai di sekitar Pondok Salada dan menjumpai hamparan bunga edelweiss bunga abadi yang tumbuh tenang di ketinggian. Setelah puas menikmati suasana, kami melanjutkan perjalanan menuju Hutan Mati.

Di sanalah kami benar-benar terpukau.

Pepohonan kering berdiri kokoh, hitam dan sunyi, seperti monumen alami dari letusan masa lalu. Dari cerita yang kami dengar, pepohonan itu mati akibat material vulkanik yang membakar segalanya, namun batangnya tetap berdiri hingga kini. Ada keindahan yang ganjil di sana tentang kehancuran yang justru melahirkan panorama dramatis.

Setelah cukup menikmati, kami pun menuruni gunung. Langkah terasa lebih ringan, mungkin karena hati sudah penuh.

Kembali di basecamp, kami mengembalikan perlengkapan sewa, lalu berkeliling mencari oleh-oleh khas setempat. Perjalanan ini bukan hanya tentang mendaki. Ia tentang kebersamaan, tentang keberanian mencoba lagi, tentang menyelesaikan apa yang dulu belum tuntas.

Kami pulang membawa lebih dari sekadar foto. Kami membawa kenangan yang membekas tentang tawa di tengah dingin, tentang jalur salah yang justru menjadi cerita, tentang belerang, edelweiss, dan hutan sunyi yang berdiri melawan waktu. Sebuah perjalanan yang melebihi ekspektasi. Sebuah cerita yang akan selalu terasa hidup setiap kali diingat kembali.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Waktu Melambat di Sumbawa

Perjalanan ke Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, bukanlah perjalanan singkat yang hanya meninggalkan jejak sementara. Selama dua bulan dari Juli hingga Agustus 2024 saya berada di sana karena urusan pekerjaan. Namun seiring waktu berjalan, tempat itu tidak lagi terasa seperti sekadar lokasi tugas. Ia berubah menjadi ruang pengalaman yang perlahan membentuk cara saya memandang ritme hidup, alam, dan kesederhanaan. Sejak pertama tiba, yang menyambut bukan keramaian atau kesan modern yang terburu-buru, melainkan bentang alam luas yang terasa mentah dan jujur. Perbukitan hijau berlapis-lapis membentang sejauh mata memandang, garis pantai panjang seperti tak pernah habis, dan laut biru yang memantulkan cakrawala tanpa batas. Lokasinya berada cukup jauh dari pusat kota, menciptakan jarak dari hiruk-pikuk yang biasa saya temui. Ada keheningan yang bukan kosong, melainkan penuh penuh ruang untuk berpikir, mengamati, dan merasakan. Meski jauh dari kota, kehidupan tetap bergerak. Kecamatan Lunyuk m...

Wanderid, lost in wanderlust

Setiap perjalanan, entah dekat atau jauh, selalu membawa rasa penasaran, tantangan, dan kejutan yang tak terduga. Saya tertarik pada jalan yang belum pernah saya lewati, pada lanskap yang terus berubah, dan pada momen-momen sunyi yang hanya bisa ditemukan saat sedang bepergian. Di situlah saya merasa benar-benar hadir, benar-benar hidup. Fotografi menjadi cara saya menyimpan semua itu. Lewat foto, saya tidak hanya merekam tempat, tetapi juga suasana cahaya lembut sebelum matahari terbit, jejak langkah di jalur pegunungan, hingga cerita kecil yang tersembunyi dalam pemandangan sehari-hari. Setiap foto adalah potongan waktu yang bisa saya kembali rasakan, sekaligus cerita yang bisa saya bagikan kepada orang lain. Perjalanan ini bukan hanya soal tujuan akhir, melainkan tentang apa yang saya pelajari di sepanjang jalan tentang perspektif baru, pengalaman baru, dan rasa kagum yang selalu muncul di setiap langkah. Melalui cerita dan gambar yang saya bagikan, saya berharap bisa mengajak o...

Langkah Pertama Menuju Puncak, Perjalanan Mendaki Gunung Seminung

  Ada perjalanan yang tidak sekadar membawa kita berpindah tempat, tetapi mengubah cara kita melihat diri sendiri. Pendakian pada 8–9 Januari 2019 menuju puncak Gunung Seminung di wilayah Lampung Barat adalah salah satunya sebuah perjalanan yang selalu saya ingat sebagai pendakian pertama dalam hidup saya. Dengan ketinggian 1.881 mdpl, gunung ini berdiri tenang namun menantang, seolah menguji niat siapa pun yang ingin menapakinya. Saya berangkat bersama teman-teman, membawa ransel yang terasa lebih berat dari biasanya bukan hanya karena perlengkapan, tetapi juga karena rasa gugup dan antusias yang bercampur jadi satu. Ini adalah pertama kalinya saya benar-benar melangkah ke jalur pendakian, pertama kalinya saya meninggalkan kenyamanan untuk menghadapi alam secara langsung. Perjalanan dimulai dengan penuh semangat. Tawa masih sering terdengar, langkah masih ringan, dan rasa penasaran menjadi bahan bakar utama. Namun seiring waktu berjalan, jalur mulai terasa ...