14 Februari 2023. Perjalanan itu dimulai dari Jakarta, ketika rel kereta membawa saya perlahan meninggalkan hiruk pikuk ibu kota menuju Bandung. Di balik jendela, kota berganti lanskap, gedung-gedung berubah menjadi hamparan hijau. Ada rasa tenang yang menyusup seolah alam sudah memanggil lebih dulu sebelum kaki benar-benar melangkah. Setibanya di Bandung, saya langsung menuju kosan saudara saya, Yopi, yang memang sedang kos dibandung karena bekerja. Tanpa banyak jeda, kami mulai menyiapkan perbekalan: P3K, camilan, air minum, makanan. Sementara perlengkapan inti seperti tenda, sleeping bag, kompor, nesting, dan hammock sudah kami reservasi melalui WhatsApp di penyewaan alat camping sekitar Gunung Papandayan. Sore itu, setelah semua siap, kami menuju Jatinangor ke kosan saudara saya yang satu lagi, Marco, yang sedang menjalani masa studi kuliah. Malam itu kami bertiga berkumpul dalam ruang sederhana, membahas rencana pendakian dengan penuh antusias. Ada canda, ada perhitungan jalu...
Ada perjalanan yang tidak sekadar membawa kita berpindah tempat, tetapi mengubah cara kita melihat diri sendiri. Pendakian pada 8–9 Januari 2019 menuju puncak Gunung Seminung di wilayah Lampung Barat adalah salah satunya sebuah perjalanan yang selalu saya ingat sebagai pendakian pertama dalam hidup saya. Dengan ketinggian 1.881 mdpl, gunung ini berdiri tenang namun menantang, seolah menguji niat siapa pun yang ingin menapakinya. Saya berangkat bersama teman-teman, membawa ransel yang terasa lebih berat dari biasanya bukan hanya karena perlengkapan, tetapi juga karena rasa gugup dan antusias yang bercampur jadi satu. Ini adalah pertama kalinya saya benar-benar melangkah ke jalur pendakian, pertama kalinya saya meninggalkan kenyamanan untuk menghadapi alam secara langsung. Perjalanan dimulai dengan penuh semangat. Tawa masih sering terdengar, langkah masih ringan, dan rasa penasaran menjadi bahan bakar utama. Namun seiring waktu berjalan, jalur mulai terasa ...