Ada perjalanan yang tidak sekadar
membawa kita berpindah tempat, tetapi mengubah cara kita melihat diri sendiri.
Pendakian pada 8–9 Januari 2019 menuju puncak Gunung Seminung di
wilayah Lampung Barat adalah salah satunya sebuah perjalanan yang
selalu saya ingat sebagai pendakian pertama dalam hidup saya.
Dengan ketinggian 1.881 mdpl,
gunung ini berdiri tenang namun menantang, seolah menguji niat siapa pun yang
ingin menapakinya. Saya berangkat bersama teman-teman, membawa ransel yang
terasa lebih berat dari biasanya bukan hanya karena perlengkapan, tetapi juga
karena rasa gugup dan antusias yang bercampur jadi satu. Ini adalah pertama
kalinya saya benar-benar melangkah ke jalur pendakian, pertama kalinya saya
meninggalkan kenyamanan untuk menghadapi alam secara langsung.
Perjalanan dimulai dengan penuh
semangat. Tawa masih sering terdengar, langkah masih ringan, dan rasa penasaran
menjadi bahan bakar utama. Namun seiring waktu berjalan, jalur mulai terasa
lebih curam, napas mulai terengah, dan tubuh mulai memahami bahwa mendaki bukan
hanya soal berjalan tetapi soal bertahan.
Sekitar lima jam perjalanan kami
tempuh, hingga alam menunjukkan sisi lain dari ujiannya. Hujan turun di tengah
perjalanan, awalnya rintik yang menenangkan, lalu berubah menjadi deras yang
membasahi segalanya. Tanah menjadi licin, pakaian menjadi berat, dan dingin
mulai merayap. Ada momen di mana langkah terasa goyah bukan hanya secara fisik,
tetapi juga mental. Namun justru di situlah saya belajar sesuatu untuk pertama
kalinya: bahwa perjalanan tidak selalu nyaman, dan keberanian bukan berarti
tanpa rasa takut, melainkan tetap melangkah meski ragu.
Kami terus berjalan.
Ketika akhirnya tiba di puncak,
rasa lelah seakan runtuh bersamaan dengan pemandangan yang terbuka di hadapan.
Angin gunung yang dingin, langit luas tanpa batas, dan kesadaran bahwa saya
berhasil menyelesaikan pendakian pertama semua bercampur menjadi emosi yang
sulit dijelaskan. Kami mendirikan tenda, berbagi makanan, berbagi cerita, dan
bermalam di sana. Malam terasa sunyi namun hidup dengan dingin yang menusuk
tulang, suara alam yang menemani, dan kehangatan persahabatan yang membuat
semuanya terasa cukup.
Di dalam tenda, saya menyadari bahwa pendakian ini bukan hanya soal mencapai puncak. Ini tentang mengenal batas diri, tentang mempercayai langkah sendiri, dan tentang menemukan rasa kecil sekaligus utuh di tengah luasnya alam.
Keesokan siangnya kami turun
kembali, membawa tubuh yang lelah namun hati yang penuh. Sebagai penutup
perjalanan, kami mengunjungi Danau Ranau. Berendam di air panasnya menjadi
hadiah yang terasa sempurna hangat yang menenangkan otot-otot yang tegang,
sekaligus memberi ruang untuk merenungkan pengalaman yang baru saja terjadi. Di
sana, di tepi danau, saya menyadari bahwa pendakian pertama ini bukanlah akhir,
melainkan awal dari ketertarikan pada perjalanan yang lebih jauh.
Kami pun kembali pulang.
Namun sebagian dari diri saya tertinggal di jalur basah itu pada langkah pertama yang penuh keraguan, pada hujan yang menguji tekad, dan pada malam dingin di puncak gunung. Karena sejak perjalanan itu, saya tahu satu hal: setiap pendakian bukan hanya tentang mencapai ketinggian, tetapi tentang menemukan versi diri yang lebih berani di sepanjang perjalanan.
Kereenn udah pernah mendaki seminung, point terakhir sangat mengesankan. “Menemukan versi diri yang lebih berani di sepanjang perjalanan”.
BalasHapusTernyata tiap perjalanan ada aja ya yg didapet, dapetin kamu contohnya ^^
Hapus