Langsung ke konten utama

Savana Pertama, Catatan Perjalanan ke Waingapu

 

Akhir Maret 2023.

Langit masih gelap ketika perjalanan itu dimulai. Bukan perjalanan liburan, bukan pula perjalanan yang sudah lama direncanakan. Ini adalah perjalanan kerja dua minggu di Waingapu, Nusa Tenggara Timur tidak lama setelah aku diterima di tempat kerja baru. Fase awal karier yang seharusnya penuh adaptasi, justru membawaku jauh ke timur Indonesia, ke tanah Sumba yang selama ini hanya kulihat dari foto dan cerita orang.

Ada rasa tegang, ada tanggung jawab, ada harapan. Dan di saat yang sama, ada rasa penasaran yang diam-diam tumbuh.


Pesawat akhirnya mendarat di Bandara Umbu Mehang Kunda. Begitu pintu terbuka, udara yang lebih kering dan hangat langsung menyentuh wajah. Rasanya berbeda. Tidak lembap seperti kota-kota besar. Lebih tegas. Lebih jujur. Di kejauhan, hamparan bukit savana membentang tanpa batas. Warna tanahnya kecokelatan, kontras dengan langit biru yang terasa lebih luas dari biasanya.

Kesan pertama tentang Waingapu adalah sederhana. Tapi justru dalam kesederhanaan itulah terasa sesuatu yang autentik sesuatu yang tidak dibuat-buat.

Perjalanan menuju kota seakan menjadi transisi dari dunia lama ke dunia yang baru. Jalanan relatif sepi. Tidak ada deretan gedung tinggi, tidak ada klakson bersahutan. Hanya rumah-rumah penduduk yang berdiri berdampingan dengan alam terbuka. Sesekali terlihat kuda merumput bebas, ternak berjalan pelan melintasi padang. Ritme hidup di sini terasa berbeda lebih pelan, lebih tenang, seolah waktu tidak terburu-buru.



Dan saat melihat padang savana itu lebih dekat, rasa takjub benar-benar muncul. Ilalang tumbuh tinggi, bahkan setinggi orang dewasa. Beberapa mencapai hampir dua meter. Berdiri di tengahnya memberi sensasi seperti menghilang di antara gelombang rumput yang tertiup angin. Angin membuatnya bergerak seperti lautan emas yang berbisik pelan. Untuk sesaat, rasanya seperti berada di adegan film kecil di tengah lanskap yang begitu luas.

Semua itu terjadi di bulan Ramadhan.

Berpuasa di tanah Sumba menghadirkan pengalaman yang berbeda. Hari-hari kerja berjalan seperti biasa, tetapi dengan suasana yang jauh dari rumah. Tidak ada hiruk pikuk ngabuburit, tidak ada keramaian khas kota besar. Saat senja tiba, langit menjadi penanda waktu berbuka. Cahaya berubah perlahan, udara mulai terasa lebih sejuk, dan suasana menjadi semakin hening. Ada ketenangan yang sulit dijelaskan seperti alam ikut menemani dalam diam.

Di sela-sela kesibukan pekerjaan, ada momen yang menjadi puncak perjalanan itu: Pantai Walakiri.

Menjelang matahari terbenam, langit perlahan berubah warna. Oranye yang hangat bertemu dengan ungu yang lembut. Siluet pohon bakau yang unik berdiri di tepian pantai, cabang-cabangnya melengkung seperti penari yang mengikuti irama angin laut. Bayangan mereka tercermin di air yang surut, menciptakan komposisi yang terasa hampir surealis.


Duduk di tepi pantai itu, mendengar deburan ombak yang datang dan pergi tanpa lelah, waktu terasa melambat. Semua tekanan pekerjaan, semua penyesuaian di tempat kerja baru, semua rasa canggung sebagai “orang baru” perlahan larut bersama suara laut.

Waingapu mengajarkan sesuatu yang tidak tertulis dalam kontrak kerja.

Bahwa hidup tidak selalu harus cepat. Bahwa perjalanan kerja pun bisa menjadi perjalanan batin. Bahwa alam yang luas mampu mengingatkan betapa kecilnya kita, sekaligus betapa berharganya setiap langkah yang kita ambil.

Interaksi dengan masyarakat lokal semakin melengkapi pengalaman itu. Senyum mereka sederhana, percakapan mereka jujur, dan keramahan mereka terasa tulus. Budaya Sumba yang masih terjaga kain tenun yang ditenun dengan sabar, tradisi yang diwariskan turun-temurun, cerita-cerita lokal yang hidup dalam keseharian memberi perspektif baru tentang kekayaan Indonesia yang begitu luas.

Dua minggu berlalu tanpa terasa. Dari akhir Maret hingga awal April 2023, Waingapu bukan hanya menjadi tempat tugas, tetapi menjadi ruang belajar. Tentang adaptasi. Tentang kesabaran. Tentang menikmati proses.

Saat pesawat lepas landas meninggalkan tanah Sumba, yang terbawa pulang bukan hanya file pekerjaan atau foto-foto lanskap. Ada rasa yang sulit dijelaskan. Ada savana yang membentang di ingatan. Ada ilalang setinggi dua meter yang masih terasa menyentuh lengan. Ada senja Ramadhan di Pantai Walakiri yang seakan terus memanggil untuk kembali.

Waingapu bukan hanya sebuah tujuan.

Ia adalah pengingat bahwa di awal perjalanan karier, di tengah tanggung jawab dan tuntutan, selalu ada ruang untuk menemukan makna di antara langkah-langkah yang kita ambil.

Dan mungkin, di situlah perjalanan yang sesungguhnya dimulai.

Komentar

  1. Sebuah perjalanan yg dimulai dari savana dan senja dipantai.. good job 👏🏻👏🏻

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo perjalanan kita mau dimulai dari mana? gimana kalo dari sekarang sampe selamanya.. deal 🤝🤝

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Waktu Melambat di Sumbawa

Perjalanan ke Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, bukanlah perjalanan singkat yang hanya meninggalkan jejak sementara. Selama dua bulan dari Juli hingga Agustus 2024 saya berada di sana karena urusan pekerjaan. Namun seiring waktu berjalan, tempat itu tidak lagi terasa seperti sekadar lokasi tugas. Ia berubah menjadi ruang pengalaman yang perlahan membentuk cara saya memandang ritme hidup, alam, dan kesederhanaan. Sejak pertama tiba, yang menyambut bukan keramaian atau kesan modern yang terburu-buru, melainkan bentang alam luas yang terasa mentah dan jujur. Perbukitan hijau berlapis-lapis membentang sejauh mata memandang, garis pantai panjang seperti tak pernah habis, dan laut biru yang memantulkan cakrawala tanpa batas. Lokasinya berada cukup jauh dari pusat kota, menciptakan jarak dari hiruk-pikuk yang biasa saya temui. Ada keheningan yang bukan kosong, melainkan penuh penuh ruang untuk berpikir, mengamati, dan merasakan. Meski jauh dari kota, kehidupan tetap bergerak. Kecamatan Lunyuk m...

Wanderid, lost in wanderlust

Setiap perjalanan, entah dekat atau jauh, selalu membawa rasa penasaran, tantangan, dan kejutan yang tak terduga. Saya tertarik pada jalan yang belum pernah saya lewati, pada lanskap yang terus berubah, dan pada momen-momen sunyi yang hanya bisa ditemukan saat sedang bepergian. Di situlah saya merasa benar-benar hadir, benar-benar hidup. Fotografi menjadi cara saya menyimpan semua itu. Lewat foto, saya tidak hanya merekam tempat, tetapi juga suasana cahaya lembut sebelum matahari terbit, jejak langkah di jalur pegunungan, hingga cerita kecil yang tersembunyi dalam pemandangan sehari-hari. Setiap foto adalah potongan waktu yang bisa saya kembali rasakan, sekaligus cerita yang bisa saya bagikan kepada orang lain. Perjalanan ini bukan hanya soal tujuan akhir, melainkan tentang apa yang saya pelajari di sepanjang jalan tentang perspektif baru, pengalaman baru, dan rasa kagum yang selalu muncul di setiap langkah. Melalui cerita dan gambar yang saya bagikan, saya berharap bisa mengajak o...

Langkah Pertama Menuju Puncak, Perjalanan Mendaki Gunung Seminung

  Ada perjalanan yang tidak sekadar membawa kita berpindah tempat, tetapi mengubah cara kita melihat diri sendiri. Pendakian pada 8–9 Januari 2019 menuju puncak Gunung Seminung di wilayah Lampung Barat adalah salah satunya sebuah perjalanan yang selalu saya ingat sebagai pendakian pertama dalam hidup saya. Dengan ketinggian 1.881 mdpl, gunung ini berdiri tenang namun menantang, seolah menguji niat siapa pun yang ingin menapakinya. Saya berangkat bersama teman-teman, membawa ransel yang terasa lebih berat dari biasanya bukan hanya karena perlengkapan, tetapi juga karena rasa gugup dan antusias yang bercampur jadi satu. Ini adalah pertama kalinya saya benar-benar melangkah ke jalur pendakian, pertama kalinya saya meninggalkan kenyamanan untuk menghadapi alam secara langsung. Perjalanan dimulai dengan penuh semangat. Tawa masih sering terdengar, langkah masih ringan, dan rasa penasaran menjadi bahan bakar utama. Namun seiring waktu berjalan, jalur mulai terasa ...